Caleg
Stress
Pemilu
(Pemilihan Umum) sudah dekat. Banyak orang ingin menjadi caleg (calon
legislatif). Tetapi, untuk menjadi caleg harus banyak modal untuk kampanye.
Dalam Pemilu ada caleg yang terpilih/berhasil dan ada juga yang gagal. Tidak
sedikit caleg yang gagal tersebut menjadi stress karena modal habis ditambah
dengan kalah dalam pemilu.
Pada suatu
hari, ada seseorang bernama Jono ( bukan
nama sebenarnya ) mendaftarkan diri ikut pemilu. Dia menjadi caleg dari
partai X dengan nomor urut 2. Lalu, Jono mendeklarasikan bahwa ia adalah caleg
di kampungnya.
Pada suatu
hari, Jono mengikuti rapat pemuda. Dalam rapat itu ia diberi kesempatan untuk
berbicara. Selain memberi pengarahan kepada para pemuda, ia juga menyatakan
diri jadi caleg. Jono menunjukkan kemampuannya. Ia mengaku lulusan dari
universitas X. Selain itu ia juga mengaku pernah menjadi ketua organisasi dan
pengusaha. Jono juga memberi janji jika menang, jalan di desanya akan
diperbaiki dan diaspal. Para pemuda lalu meminta souvenir kepada Jono, dan Jono
pun memberikan souvenir berupa kaus bergambar dirinya beserta nama pertai
politik.
Jono
diundang rapat di desa lain. Jono lalu menyatakan diri jadi caleg di hadapan
peserta rapat. Para peserta rapat mengeluhkan kondisi jalan yang buruk. Mulai dari
jalan berlubang dan belum diaspal. Mereka meminta agar jalan segera diperbaiki.
Jono lalu memberi bantuan senilai Rp.30.000.000,- kepada masyarakat. Uang
tersebut hasil penjualan tanah milik Jono. Jono memberi bantuan dengan syarat
masyarakat dan para peserta rapat memilihnya dalam pemilu nanti.
Akhirnya
pemilu terbuka dimulai. Jono sadar bahwa ia harus mempunyai banyak uang untuk
kampanye dan untuk konvoi keliling kota. Lalu Jono memutuskan untuk menjual
rumahnya. Uang hasil penjualan rumah tersebut ia setorkan kepada partai untuk
dana kampanye. Tanpa Jono sadari, uangnya sudah berkurang sangat banyak.
Istri Jono
membutuhkan uang untuk membayar SPP anaknya, tapi Jono sudah tidak lagi
mempunyai simpanan uang. Jono dan istrinya cekcok. Setelah cekcok tersebut,sang
istri memutuskan membawa anaknya untuk pergi dari rumah. Jono menjadi stress
karena tak punya uang lagi serta ditinggal oleh anak dan istrinya. Pemilu belum
dimulai, namun Jono sudah sangat stress. Hingga suatu hari Jono tertawa sendiri
dan bertingkah aneh. Tetangganya tidak tahu sama sekali.
Suatu hari,
ada tetangga yang mengetahui bahwa Jono menjadi gila. Setelah di adakan
musyawarah oleh warga sekitar, semua sepakat bahwa Jono harus di masukkan ke
Rumah Sakit Jiwa.